Anak ni Surat

Tanda Diakritik (Anak ni Surat)

Setiap anak ni surat memiliki nama tersendiri yang berbeda-beda tergantung pada daerahnya. Studi perbandingan nama diakritik tersebut ternyata sangat bermanfaat dalam menentu kan arah penyebaran aksara Batak dan juga menunjukkan beberapa persamaan dengan nama diakritik di Sumatra Selatan dan di Jawa.

e

(Jawa taling, Lampung keteliling, Rejang katiling)

Di Mandailing, diakritik ini dinamakan talinga – hampir sama dengan istilah yang dipakai di Jawa, Rejang, dan Lampung.

Di Simalungun, nama diakritik tersebut ditambah dengan awalan ha- dan akhiran -an sehingga menjadi hatalingan. Karo kětělengěn barangkali berasal dari Simalungun hatalingan.

Di Toba dan Pakpak hatalingan menjadi hatadingan. Sebabnya adalah barangkali bahwa taling tidak berarti apa-apa dalam bahasa Batak, sedangkan tading berarti ‘tinggal’. Dengan demikian hatadingan dapat diartikan ‘ketinggalan’, dan pemberian nama tersebut masuk akal mengingat diakritik tersebut berada sebelah kiri huruf induk, jadi dia seolah-olah ‘ketinggalan’ di belakang.

Kemungkinan besar bahwa istilah hatadingan bukan langsung berasal dari Mandailing, melainkan melalui Simalungun hatalingan. Mengingat bahwa daerah Simalungun tidak berbatasan langsung dengan daerah Angkola-Mandailing, dapat ditarik kesimpulan bahwa istilah hatalingan “lahir” di daerah perbatasan Toba-Simalungun. Hal ini sesuai sekali dengan hipotesa bahwa aksara Toba dan Simalungun berasal dari aksara purba Toba-Simalungun kira-kira di daerah antara kota Parapat dan Balige. Secara sederhana, penyebaran nama diakritik tersebut adalah sebagai berikut[2]:

M Talinga
|

S Hatalingan                     T Hatadingan

|                                        |

K Kětelengan                   P Ketadingin

o, u

Diakritik yang berbentuk x memiliki makna [o] kecuali di Karo di mana bunyinya adalah [u]. Di Mandailing diakritik ini bernama siala ulu. Siala tidak ada artinya, tetapi ulu berarti ‘kepala’, barangkali karena letaknya yang ‘mengepalai’ huruf induknya. Selain diakritik ini ada lagi diakritik /i/ yang sama posisinya, dan juga namanya agak mirip yakni ulua.

Di Toba siala ulu dipersingkat menjadi siala saja, dan terdapat pula nama kedua untuk diakritik tersebut yakni sihora. Di Pakpak-Dairi namanya persis sama (kalau ditulis), tetapi diucapkan sikora karena makna huruf di Toba adalah [ha] sedangkan di Pakpak-Dairi selalu [ka]. Simalungun sihorlu, dan Karo sikurun masih mirip bunyinya dengan sihora, namun kurang jelas bagaimana kepastiannya:

M Siala Ulu

|

T Siala                              T Sihora

|

P Sikora       (S Sihorlu, K Sikurun)

u, ě

(M, T, S, P) (K, P)

Diakritik ini terdapat dua kali di Pakpak, sekali sebagai tanda yang mewakilkan bunyi [u] dan sekali lagi sebagai tanda yang mewakilkan bunyi [ə], yaitu ě-pepet. Yang pertama disebut kaběrětěn, yang kedua kaběrětěn podi. Silsilah aksara ini jelas sekali. Kata kaběrětěn berasal dari Mandailing boruta (juga disebut buruta) yang menurunkan bentuk Toba haboruan dan haborotan. Kedua nama ini merupakan hasil interpretasi dari kata boruta dan burutaBoruta jelas dianggap sebagai gabungan kata boru ‘anak perempuan’ dan akhiran -ta ‘kita’.

Sebagaimana dapat dilihat pada Mandailing talinga yang menjadi Simalungun hatalingan, dan Mandailing amisara yang menjadi Toba hamisaran, terdapat kecen­derungan untuk menambah imbuhan ha-…-an. Dengan demikian boru=ta menjadi ha=boru=an. Sebagaimana juga terjadi dalam hal hatalingan yang menjadi hatadingan (ialah interpretasi makna berdasarkan letaknya), diakritik ini pula mendapatkan nama keduanya haborotan (ha=borot=an) karena ia bersatu atau ‘tertambat’ (artinya borot adalah ‘tambat’) pada huruf induknya.

M Boruta (Buruta)

|

T Haboruan              T Haborotan

|                                            |

P Kaběrětěn [u],

P Kaběrětěn Podi [ə]             S Haboritan [u]

|

K Kěběrětěn [ə]

ng

(India Anusvara)

Nama diakritik ini adalah amisara di Mandailing yang bunyinya mirip sekali dengan nama diakritik ini di India yakni anusvara. Di Toba dan Simalungun ditambah dengan bunyi sengau [n] dan imbuhan ha-…-an menjadi haminsaran. Karena bunyi minsar mirip dengan binsar (yang diucapkan ‘bitsar’ atau ‘bincar’) maka di Pakpak-Dairi diakritik ini menjadi kěbincarěn (T binsar dan P bincar berarti ‘terbit’). Di Toba juga terdapat nama kedua – paminggil yang berarti ‘bunyi bernada tinggi’.

M Amisara

|

T Hamisaran                     T S Haminsaran       T Paminggil

|

P Kebincaren

|

K Kěbincarěn

i

(J Ulu, L Olan, R Kaluan)

Di hampir seluruh Indonesia, arti ulu adalah ‘kepala’ (hanya bahasa Melayu/Indonesia yang memakai ‘kepala’ yang berasal dari bahasa Sanskerta). Barangkali diakritik ini dinamakan ulu karena ia “mengepalai” huruf induknya: Pada aksara Kawi (Sumatra dan Jawa) letaknya diakritik ini di atas aksaranya. Bentuknya bundar dan lebih besar daripada di Batak. Dengan demikian anak ni surat ini pantas dinamakan ‘kepla’. Namanya di Mandailing dan Toba ulua, dan di Toba ada nama kedua yang masih mirip yakni hauluan dan haluain. Kata dasar ha=ulu=an adalah ulu ditambah dengan imbuhan ha-…-an, sedangkan haluain agak menyimpang. Pakpak-Dairi kaloan dan Karo kělawan diturunkan dari Toba haluain atau Simalungun haluan.

M Uluwa

|

T Uluwa                           T Haluain (Hauluan), S Haluan

|

P Kaloan K Kělawan

o (ou)

L Kětulung (au), R Katulung (au)

Di Lampung dan di Rejang terdapat tanda diakritik untuk diftong /au/ yang dinamakan kětulung dan katulung yang jelas sekali sama dengan Simalungun hatulungan. Simalungun adalah satu-satunya daerah yang memiliki diakritik tersendiri untuk diftong [ou]. Diftong [ou] juga terda pat di Karo, tetapi tidak di daerah-daerah lainnya. Namun di Karo, tidak terdapat diakritik khusus untuk bunyi [ou]. Kendati demikian, Karo memiliki dua varian yang menandai bunyi [o] yakni dan . Dua-duanya bernama kětolongěn. Kemungkinan besar bahwa dahulu kala Karo pernah membedakan penulisan [o] dan [ou] sebagaimana sekarang masih halnya di Simalungun.

Karena namanya yang mirip dengan Lampung kětulung dan Rejang katulung dapat dipastikan bahwa diakritik tersebut bukan perkembangan baru, dan juga mendukung hipotesa saya bahwa aksara Simalungun (atau lebih tepat aksara Purba Toba-Simalungun) adalah lebih tua daripada Toba Barat, Pakpak atau Karo.

M T (?)

|

S Hatulungan [ou]

|

K Kětolongen [o]

Kalau digambarkan, arah penyebaran aksara Batak adalah sebagai berikut:


[1] Yang dimaksud dengan “aksara Nusantara” adalah aksara-aksara turunan India yang terdapat di kepulauan Asia Tenggara.

[2] K = Karo, P = Pakpak-Dairi, S = Simalungun, T = Toba, M = Angkola dan Man­dailing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s